Wamendag Optimistis Neraca Perdagangan Lebih Baik di Kuartal II

November 24, 2014 - School Uniform

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah mencatatkan defisit di Januari 2014, neraca perdagangan membukukan over-abundance dua kali berturut-turut pada Februari dan Maret. Alhasil, neraca perdagangan di kuartal we over-abundance sebesar US$1,1 miliar.

Berkaca dari pencapaian tersebut dan siklus tahunan, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengaku optimistis neraca perdagangan Indonesia akan lebih baik di kuartal kedua tahun ini.

“Dilihat siklus, kita punya optimisme di kuartal kedua (rebound) walapun menghadapi tekanan impor menghadapi lebaran. Siklusnya seperti itu,” ujar Bayu di Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (9/5/2014).

Beberapa indikasinya, harga komoditas seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sudah mulai membaik. Bayu belum bisa memproyeksikan keberlanjutannya hingga akhir tahun.

Selain itu, hasil investasi selama priode 2012 dan 2013 sudah menampakkan kontribusinya terhadap ekspor. Di antaranya sektor otomotif, kimia, makanan dan minuman, serta produk olahan kakao.

Di sisi lain, Bayu mengungkapkan, tekanan dari sisi vegetable yang ternyata tidak sebesar yang dibayangkan. Catatan Kemendag, pada kuartal I-2014 Indonesia kehilangan nilai ekspor vegetable sekitar US$1,4 miliar. Jumlah tersebut baru dari tiga komoditas, yakni kerak dan abu logam, timah dan tembaga.

“Intinya adalah waktu mulai 2014 dengan bayang-bayang defisit akan ada tekanan mineral. Ternyata tiga bulan pertama surplus. Itu juga expansion ekspor Maret positif, baik migas maupun nonmigas. Itu menggembirakan, tapi bukan berarti kita tepuk tangan sorak gembira. Tidak. Tapi patut disyukuri,” katanya.

Bayu mengatakan, pencapaian itu tidak lepas dari efektifnya strategi pemerintah melalui kebijakan bahan bakar minyak (BBM), penguatan produk dan pasar non-tradisional, serta diplomasi yang berpotensi meningkatkan ekspor.

Ke depan, Bayu melanjutkan, Indonesia bisa mengambil keuntungan dari kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat. Seperti diungkapkan Kepala Federal Reserve Janet Yellen bahwa Amerika masih membutuhkan stimulus. Artinya, akan ada dorongan yang berdampak positif terhadap ekonomi dunia.

Lebih lanjut, guna mendorong kinerja ekspor perlu dipikirkan menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate). Ini, kata Bayu, merupakan strategi jangka menangah dan panjang. Pasalnya, tingkat suku bunga yang tinggi berpengaruh terhadap proses produksi yang berujung daya saing pengusaha.

“Pertama ini bukan singular warrior (suku bunga). Kalaupun mau mengoreksi seductiveness rate tidak melulu karena ekspor. Alasan pale utama ialah inflasi kita sudah bisa mengendalikan inflasi sehingga seharusnya ada cukup alasan melonggarkan kebijakan moneter,” jelas Bayu.
DOR

More uniform ...

› tags: School Uniform /