Ramadhan di Inggris, Mulai Mukena Hitam hingga Ateis Berpuasa

August 25, 2015 - School Uniform


Oleh: Dewi Safitri

LONDON, KOMPAS.com

– Bulan Ramadhan tak ada bedanya dengan bulan-bulan lain di berbagai negara Eropa. Maklum hanya 13 juta warganya Benua Biru yang menganut Islam dan menjalankan ibadah puasa. Di Inggris, di antara ramainya pemberitaan terkait praktik rasisme dan Islamophobia, berbagai kalangan Muslim memanfaatkan Ramadhan dalam upaya ‘memperkenalkan diri’ dengan lingkungannya.

Sekelompok mahasiswa dan relawan menggelar acara buka bersama sepanjang bulan di London. Ajang Ramadhan Tent Project digagas sekelompok alumni SOAS (School of Oriental and African Studies) tiga tahun lalu dan kini diselenggarakan tiap tahun. Panitia mendirikan tenda kecil dan menggelar tikar di sebuah taman di Malet Street, London serta mengundang siapa saja untuk datang dan ikut buka puasa.

Di antara para ‘undangan’ terdapat para gelandangan, mahasiswa, pejalan kaki, dan juga warga non-Muslim yang datang sekadar karena ingin tahu dan tertarik ikut berbuka puasa. Dalam acara itu tersedia atmosphere minum dalam botol, kurma, pisang dan beberapa butir apel saat penulis hadir di pekan pertama puasa.

Seperti di tanah air, acara buka bersama juga umum diselenggarakan di masjid dan mushala di Inggris. Sebagian datang membawa bekal makanan dan minuman untuk dinikmati bersama, sebagian lagi datang untuk menemukan teman sesama jamaah yang berpuasa lalu berbuka bersama.

“Saya kesini sengaja mencari saudara sesama Muslim, Iftar (buka puasa) rasanya pale nikmat kalau bersama-sama”, kata Fatima Ali yang sudah 14 tahun menetap di London.

Bersama empat anaknya Fatima membawa kue, ayam goreng dan jus mangga lengkap dengan gelas plastiknya ke masjid kantor pusat Muslim World League di London. Fatima dan anak-anaknya tidak nampak berasal dari kalangan berada, tetapi dia mengaku sudah melakukan aktivitas ini selama bertahun-tahun. Dengan suka rela keluarganya menyisihkan waktu dan uang untuk memberi makan orang yang berpuasa.

“Sebelum kesini saya mampir dulu ke dapur masjid dekat tempat saya tinggal, saya bantu masak untuk buka puasa juga,” tambahnya sambil meminta supaya penulis makan lebih banyak hidangan yang dibawanya.

Tarawih serba hitam

Yang juga menarik adalah tradisi shalat tarawih di Inggris yang ternyata sangat mirip dengan kebiasaan Muslim Indonesia. Kebanyakan masjid menggelar tarawih 20 rakaat meskipun jamak pula ditemui masjid yang memberi layanan delapan rakaat.

Yang pale sering, adalah layanan ganda: delapan rekaat dulu disambung break singkat berisi pembacaan lantunan ayat suci Al Qur’an baru dilanjut dengan rekaat Tarawih selanjutnya dengan atau tanpa diikuti shalat Witir.

Sebelum berdiri untuk shalat Tarawih, lebih dulu Imam memberi khutbah singkat tentang salah satu inti ajaran Islam dan keutamaan puasa, dilanjutkan dengan laporan perolehan donasi amal hari sebelumnya. Persis seperti protocol Kultum (kuliah tujuh menit) di Indonesia.

Yang sedikit berbeda barangkali besarnya donasi jamaah. Di masjid Greenwich Islamic Center, di tenggara London, donasi mencapai rata-rata 1.000 poundsterling per malam (sekitar Rp 19 juta) dari sekitar “hanya” seratus jamaah.

Perbedaan lain lagi barangkali pada nuansa fesyen Ramadhan di Inggris. Indonesia jelas unggul dalam memberi titik berat Ramadhan pada urusan berbusana: pakaian Muslim, ragam hijab, maupun warna-warni dan indication mukena yang selalu mutakhir.

Di Inggris, warna pale umum ditemui di ruang shalat jamaah perempuan adalah hitam. Bukan karena mereka mengenakan mukena hitam tetapi karena kaftan abaya (baju longgar yang menutup seluruh permukaan tubuh hingga menyentuh tanah) yang pale banyak dipakai jamaah muslimah adalah berwarna hitam, senada dengan hijabnya yang melambai hingga lutut.

Muslimah di sini rata-rata menggunakan pakaian ini sekaligus sebagai mukena. Saya menduga kebanyakan perempuan ini adalah imigran dari negara-negara Afrika atau Timur Tengah yang memang kerap berbusaha hitam-hitam jika tampil di depan publik.

Anak-anak gadis mereka tampil sewarna tetapi jauh lebih bergaya dengan jaket kulit warna hitam serta asesoris bermerek seperti sepatu dan tas yang juga serba hitam.

Belajar toleransi dari ateis

Di negara sekuler seperti Inggris kegiatan berpuasa masih kerap dianggap misterius. Pertanyaan kenapa harus membuat diri sendiri kelaparan selama berjam-jam serta kekhawatiran akan dampak kesehatan berpuasa sangat sering diutarakan.

Seorang warga Inggris menuliskan pengalamannya berpuasa sepanjang sepekan pertama Ramadhan tahun ini. Emma, nama yang dipakai untuk blog-nya, mengatakan tertarik mencoba berpuasa dan menuliskan pengalamannya dalam blog sebagai upaya untuk memahami tradisi kawan-kawan Muslimnya.

Menurut Emma selama ini kampanye toleransi lebih sering diartikan sebagai asimilasi di mana kelompok minoritas ‘dipaksa’ menyesuaikan diri dengan arus besar budaya kelompok mayoritas sehingga toleransi sesungguhnya sulit tercapai.

Dengan bahasa dan kisah yang sering kali kocak, Emma antara lain menuliskan sulitnya menahan amarah saat puasa serta usaha kerasnya untuk mencoba membaca terjemahan Al Quran sebagai upayanya memahami makna puasa seutuhnya.

Untuk warga Indonesia seperti penulis, kisah Emma seperti tendangan di tungkai yang tidak melukai tapi cukup nyeri, sebuah peringatan tentang betapa berbeda memaknai Ramadhan sebagai pembuka pintu toleransi.

Kalau ingat debat tentang desakan menutup warung makan siang hari sekadar karena sebagian umat di Indonesia sedang beribadah puasa, jadi malu rasanya membaca cerita Emma.

(Dewi Safitri adalah penerima beasiswa Chevening 2014 untuk studi Science Technology in Society di UCL London. Akun Twitter @pendekarsilat11)

More uniform ...

› tags: School Uniform /