Kolonel Laut (S) Ivan Yulivan, Profesor Bela Diri Pertama di Indonesia

December 30, 2014 - School Uniform

Gelar profesor biasanya diberikan kepada ilmuwan yang berdedikasi tinggi di bidang akademik. Namun, perkecualian bagi Kolonel Laut (S) Ivan Yulivan yang mendapatkan gelar guru besar dari jalur yang tidak biasa. Ivan dinobatkan sebagai profesor untuk ilmu bela diri karate.

BAYU PUTRA, Jakarta

DUA mok yang jong berdiri tegak di sudut ruang kerja Ivan di kompleks Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Peranti bela diri wing chun yang sering muncul dalam film-film laga Tiongkok itu menyambut setiap tamu di ruang kerja Ivan. Kesan yang muncul sudah jelas, si pemilik ruangan pasti pencinta seni bela diri negeri tirai bambu tersebut.

Di samping tonggak mok yang jong, sebuah meja kecil menyandar di dinding. Di atasnya dipajang tiga pedang samurai yang menandakan pemiliknya juga menggemari seni bela diri Jepang. Selebihnya, ruang kerja Ivan lebih mirip perpustakaan karena banyaknya buku yang ditata di ruangan tersebut.

Dengan tubuh tegap dan kekar, penampilan Prof Ivan sudah cukup untuk merontokkan nyali siapa joke yang bermaksud tidak baik kepadanya. Apalagi, di balik tubuh tegap itu tersimpan kemampuan bela diri yang mumpuni. Pria yang sehari-hari menjabat komandan Detasemen Markas Mabes TNI itu memang penggila seni bela diri, terutama karate. Saat ini kemampuannya ada di dan V.

Saat ditemui Jumat lalu (4/4), pria murah senyum itu antusias saat diajak berbicara mengenai gelar profesor yang baru diterimanya. Pada 31 Maret lalu Ivan dikukuhkan sebagai guru besar martial humanities atau ilmu bela diri oleh World Academy of Martial Arts Philosophy and Science (WAMAPS). WAMAPS yang ber­kantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia, itu merupakan perwakilan dari World Organization of Mixed Martial Arts yang bermarkas di Kanada. WAMAPS mengurusi bidang bela diri Asia, sedangkan Ivan menjadi orang Indonesia pertama yang mendapat gelar tersebut. “Di dunia saya adalah profesor ilmu bela diri ke-33,” terangnya.

Penganugerahan gelar profesor itu merupakan buah dedikasi Ivan di bidang pengembangan ilmu bela diri di Indonesia. Pria kelahiran 23 Nov 1968 tersebut menggeluti karate sejak 1979 atau sudah 35 tahun. Versi WAMAPS, Ivan memiliki sederet pengabdian yang tinggi di bidang bela diri. Salah satunya, mendirikan Bandung Fighting Club (BFC). Klub bela diri tersebut menampung para preman dan petarung di Kota Kembang.

“Mereka (preman dan petarung) punya kemampuan bela diri, tapi tidak punya pekerjaan. Maka itu, mereka kami tampung dan arahkan agar tidak menjadi liar di jalanan,” tuturnya.

Beberapa mantan preman didikan Ivan sudah malang-melintang di kejuaraan bela diri internasional, dan itu membuat mereka mendapat banyak tawaran pekerjaan. Khususnya di bidang jasa pengamanan. Jika sudah mendapat pekerjaan, barulah anak didik Ivan dinyatakan lulus dengan baik.

Ivan saat ini juga menjadi pelatih sejumlah pasukan khusus TNI. Di TNI-AL, dia melatih pasukan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka), Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan Pasukan Intai Amfibi (Taifib). Di jajaran TNI-AD, dia melatih prajurit Detasemen Penanggulangan Teror (Gultor 81) Kopassus.

Untuk TNI-AU, Ivan menggembleng Detasemen Bravo 90, pasukan chosen yang dipilih dari anggota terbaik Paskhas TNI-AU. Ivan membekali para prajurit itu kemampuan bertarung jarak dekat dengan teknik churned martial art atau bela diri campuran.

Menurut Ivan, setiap pasukan khusus biasanya memiliki pelatih bela diri masing-masing. Namun, khusus untuk churned martial art, hanya dirinya yang melatih. Ivan melatih pasukan tersebut agar mampu bertarung secara terukur, efektif, dan tidak banyak membuang tenaga untuk mengalahkan lawan.

Prestasi lain Ivan yang membuat WAMAPS terkesan adalah karya bukunya. Ivan menulis tiga buku tentang bela diri. Yakni, The Way of Karate-Do (20 Ways of Mental Characters of True Karate), The Guru Advice, dan Karateka Kunshi No Bugei (Karate for a Wise). “Kebetulan (gelar) doktor saya adalah doktor manajemen strategi dari Universitas Padjadjaran Bandung. Mereka menilai saya mewakili bidang akademisi,” lanjut suami Dewi Enjeliany itu.

Selain karate, ayah lima anak tersebut menggeluti berbagai bela diri lainnya. Awalnya dia menekuni pencak silat. Kemudian, saat menjadi taruna AAL, Ivan mengenal judo. Dia juga berlatih kungfu toya dari guru bahasa inggrisnya. Lalu, saat belajar karate, Ivan menekuni jujitsu. Sementara itu, ketika mendapat kesempatan belajar di Jepang, dia mempelajari aikido dan iaido.

Enam bulan terakhir Ivan juga mempelajari wing chun. Bela diri itu sering ditampilkan bintang film laga Ip Man. Salah seorang guru Ivan adalah Sifu Chan, teman seangkatan Ip Man. “Walau baru enam bulan, saya sudah bisa mengalahkan beberapa senior,” ujarnya seraya tertawa.

Salah satu pengalaman yang membuat Ivan bangga adalah keberhasilannya mengundang master dari dua badan karate Jepang ke Indonesia. Yakni, Japan Karatedo Federation (JKF) dan Shotokan Karatedo International Federation (SKIF). Dua badan itu dipertemukan dalam sebuah eventuality coaching hospital pada 2013.

JKF maupun SKIF diakui sebagai badan yang aktif mengembangkan olahraga karate di dunia. “Ini (mengundang JKF dan SKIF) bukan hal yang mudah karena di dunia internasional dua badan ini sebenarnya berseberangan,” katanya.

Kemampuannya melobi dua organisasi tersebut juga mendapat apresiasi dari WAMAPS karena dinilai bisa memberikan angin segar bagi bersatunya dua badan tersebut. Di bidang karate, Ivan merupakan penyandang sabuk hitam dan V pada tiga perguruan di Indonesia. Yakni, Institut Karate-Do Indonesia (Inkai), Bandung Karate Club (BKC), dan Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia (KKI).

Perkenalan Ivan dengan karate mirip cerita film. Saat masih duduk di kelas IV SD, Ivan harus pergi ke sekolah berjalan kaki menempuh jarak 4 kilometer. Untuk menuju sekolah, dia mesti melintasi jembatan Sungai Cikapundung yang terkenal sebagai sarang preman. “Saya sering dipalak, dimintai uang, bahkan jam tangan saya diminta. Lama-lama saya dongkol juga,’” kenang alumnus AAL 1990 itu.

Tak disangka, suatu hari dia bermain-main ke Gedung Yulius Usman Bandung. Kala itu di gedung tersebut sedang dilaksanakan kumite (ujian) karate yang mempertemukan juara-juara Indonesia. Ivan kecil terkagum-kagum melihat kemampuan para karateka itu.

Setelah pulang, dia kemudian minta izin orang tuanya agar diperbolehkan masuk perguruan karate pada 1979. Ivan menuturkan, pada masa awal dirinya bergabung di dojo karate, tidak ada satu joke pelajaran teknik yang dia terima. “Saya malah disuruh mengepel dojo, mengambil air, bersih-bersih. Tidak ada pelajaran teknik bela diri sama sekali,” urainya.

Setelah beberapa lama, para guru di dojo baru mau melatih Ivan. Itu dilakukan setelah Ivan bisa menunjukkan kegigihan mental.

Bagi Ivan, karate bukan sekadar bela diri. Karate adalah jiwa. Lewat bela diri itu, dia menemukan jalan untuk mengenal diri dan Tuhan Yang Mahakuasa. Dari karate pula, dia belajar untuk rendah hati dan mau berbagi. “Saya punya dojo karate Budo Seisindojo. Artinya, para kesatria yang berpikiran jernih.”

Menurut dia, pencinta seni bela diri akan selalu haus akan ilmu. Setiap kali melewati sebuah perguruan, akan selalu ada keinginan untuk belajar meski jenis bela dirinya berbeda dengan yang dikuasainya. Saat di Negeri Sa­kura, misalnya, Ivan menyempatkan diri untuk menjelajahi berbagai dojo.

Saat ditanya soal impiannya yang belum terwujud, Ivan menyebut kata moksa alias menghilang dari bumi. Itulah yang dilakukan para kesatria zaman dulu setelah melewati berbagai tahap kehidupan. Dalam istilah sekarang, moksa bisa diartikan sebagai menyepi. Ivan ingin menyepi ke pegunungan dan bersatu dengan alam.”Saya merasa ketika ada di ketinggian alam semesta, hutan belantara, saya merasa menjadi bagian dari peredaran alam semesta ini,” ucapnya.

Ivan menambahkan, moksa sebenarnya upaya untuk mengembalikan manusia kepada asalnya. “Banyak praktisi bela diri akhirnya menyepi, bersemadi, karena justru di situlah puncak ilmu bela diri,” tandasnya. (*/c10/ari)

More uniform ...

› tags: School Uniform /